Juru Kamera : Dennis Sanjaya - Miko Hendrawan
Tayang : Selasa, 08 April 2008, Pukul 12.30 WIB
indosiar.com, Jawa Tengah - Candi adalah bangunan kuno yang menunjukan peradaban suatu bangsa. Dan sebagian besar bangunan itu berada di Indonesia. Mereka tersebar, sebagian berdiri tegak di tengah kesunyian abadi di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah. Sebagian lagi termakan usia di kaki gunung Ungaran, yang dikenal dengan nama Gedong Songo atau sembilan candi.
Mereka unik dan khas, namun masih misteri. Ungaran berdiri tegak 2000 meter dari permukaan laut. Walaupun bukan tertinggi di Pulau Jawa, kabut selalu menyelimuti gunung ini.
Candi-candi yang tersebar dilereng ini, barangkali membuat nama Ungaran lebih dikenal. Ungaran tidak terlalu jauh dari kota Semarang, hanya dua jam perjalanan, namun waktu sependek itu akan terasa lama, bila sepanjang jalan tidak ada pemandangan yang menarik.
Dan ini Bandungan, tempat favorit yang bagi warga Semarang untuk menghabiskan waktu berlibur. Bandungan terkenal salah satunya dari tanaman hias. Harganya tidak terlalu mahal, sehingga menarik minat banyak orang yang datang dari berbagai daerah untuk berburu tanaman.
Dan inilah Gedong Songo...yang dalam bahasa Jawa berarti sembilan bangunan. Kawasan ini sebenarnya merupakan kompleks purbakala dimana candi - candi tersebar dilereng gunung ini.
Kawasan ini cukup luas dan kami memerlukan Kasman, salah satu Pegawai Dinas Purbakala untuk membantu kami menunjukan jalan. Nama Gedong Songo awalnya untuk menunjukkan jumlah candi yang berada di kompleks ini.
Tidak seperti Borobudur atau Prambanan, anda harus menguras energi untuk melihatnya. Anda harus mendaki ratusan meter hingga ke candi yang berada paling atas yang disebut nirwana atau surga. Kalau lelah, pilihannya adalah naik kuda.
Hewan piaraan yang perannya kian tergeser oleh mesin ini, sangat membantu membawa anda ke atas. Anda tinggal membayarnya lima puluh ribu rupiah, dan hewan ini akan membawa anda ke nirwana.
Misteri Gedong Songo
Waktu – waktu seperti ini, sebenarnya kurang bersahabat untuk menikmati Gedong Songo. Pengunjung lebih memilih bulan Mei atau Juni untuk berkunjung karena udara – nya cerah. Candi – candi ini dibangun di ketinggian seribu dua ratus meter dari permukaan laut.
Bayangkan saat itu, mereka harus membawa batu – batu yang beratnya berton – ton dengan peralatan seadanya hingga ke atas lalu menyusunnya satu persatu. Candi pertama ini kondisi sudah tidak utuh lagi. Beberapa bagian rusak dimakan usia.
Namun manusia ternyata lebih kejam dari waktu. Coret - coretan ini telah menghilangkan nilai – nilai sakral dari bangunan ini. Barangkali, harus ditarik garis pemisah, apakah ini tempat hiburan atau museum, karena tempat ini sering hanya dijadikan tempat pacaran.
Yoni adalah alat kelamin pria yang menjadi tanda bahwa candi ini dibangun oleh pendeta-pendeta agama Hindu. Ciri - ciri Hindu juga bisa dilihat dari patung Siwa, Ganesha dan Aagastya yang oleh pematungnya dibuat sekitar abad ke-8 Masehi, semasa pemerintahan Dinasti Sanjaya.
Gedong Songo terkubur dalam kesunyian lereng Ungaran selama berabad - abad hingga arkeolog berkebangsaan Belanda, E.B Raffles menemukannya sekitar 250 tahun yang lalu. Sayangnya, tidak ada bukti tertulis yang bisa menjelaskan, siapa raja yang memerintahkan membangun candi ini.
Dan ini candi kedua. Sama..., sudah tidak menarik lagi, karena kondisinya sudah rusak. Terdiri dari dua candi. Yang lebih kecil dan sudah menjadi puing – puing ini disebut perwara. Perbedaan-nya dengan candi pertama, pada candi kedua ini, sama sekali tidak memiliki relung untuk tempat arca atau patung.
Bagian atapnya terdiri dari empat susun dengan hiasan Antefix, yakni ukiran seorang dewa yang sedang duduk. Kenapa candi – candi di sini dibangun berbeda dan terpisah – pisah ?.
Hingga saat ini, para ahli sejarah masih terus meneliti dan mencari bukti – bukti tertulis.
Misteri candi di Gedong Songo ibarat kabut abadi yang menyelimuti gunung ungaran.
Menuju Nirwana
Jalan dari candi dua hingga ke candi kelima masih sangat jauh. Dan ini candi ke tiga yang terdiri dari tiga bangunan, yaitu candi induk dengan dua candi Perwara.
Dibandingkan candi sebelumnya, arca yang mengisi relung di tubuh candi tiga, masih terlihat jelas, yakni arca – Mahakala dan Nadiswara yang setia menjaga candi ini berabad-abad.
Candi di Gedong Songo ini aslinya dibangun dari batu andesit. Setelah dipugar kini diganti dengan batu biasa. Dari candi ketiga ini tercium bau belerang. Tidak jauh dari candi tiga, terdapat sebuah mata air panas yang suhunya mencapai delapan puluh detajat selsius.
Sebagian pengunjung memanfaatkan tempat ini untuk mengobati penyakit tertentu. Sebagian lagi memanfaatkan-nya untuk membersihkan batin dengan melakukan meditasi.
Cuaca di Gedong Songo memang tidak dapat ditebak. Dalam perjalanan ke candi empat yang masih lumayan jauh udara berubah drastis. Namun justru cuaca seperti ini malah menambah candi - candi di gedong songo lebih eksotis.
Diantara semua candi, yang keempat masih terlihat utuh. Hanya saja delapan candi kecilnya sudah menjadi puing. Dan inilah candi ke lima atau yang disebut puncak Nirwana, dimana manusia mencapai kesempurnaannya.
Sang pembuatnya bisa jadi sengaja membangun candi – candi ini satu demi satu sesuai dengan tingkatan. Dan ketika rasa lelah mencapai puncaknya, saat itupula kita mencapai kesempuraan.
Seharusnya ada sembilan candi di Gedong Songo, namun kini tinggal lima, yang empat lainnya sudah menjadi puing. Candi lima terdiri dari sebuah candi induk, dengan beberapa reruntuhan candi Perwara. Si pembangun candi ini rupanya sudah memperhitungkan dengan baik letak candi lima.
Di candi ini, mereka memuja sang maha kuasa di tengah suasana hening dan terpencil. Tidak seperti candi dataran tinggi Dieng yang masih terawat dengan baik. Sebaliknya Gedong Songo akan sulit bertahan lama.
Bila waktu memang tidak bisa dihindari, kita bisa sedikit banyak bisa memperpanjang usia candi ini dengan tidak melakukan perbuatan perbuatan yang tidak bertanggung jawab.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar